Ketika harus Memilih, Bertahan atau Pindah

Seringkali kita dihadapkan pada kondisi dan situasi yang sulit dan tidak kondusif pada perusahaan tempat kerja kita. Seperti deadline kerjaan yang seolah tidak pernah habis, sikap atasan yang otoriter dan selalu menganggap kerja karyawan kurang gesit dan cepat, persaingan antar sesama karyawan yang tidak sehat, sikap sesama karyawan yang suka menjilad dan asal bapak senang, dan masih banyak lagi.

Situasi semacam ini disadari atau tidak pada akhirnya sangat menguras energi dan pikiran kita. Betapa tidak, selama delapan jam sehari, lima hari dalam seminggu bahkan dua puluh dua hari dalam sebulan mata dan pikiran kita direcoki dengan situasi seperti ini.

Timbul pertanyaan, apa yang kemudian akan direspon oleh hati kita. Mungkin sembilan puluh persen dari kita akan melakukan penolakan atas situasi kerja seperti ini. Hanya saja tingkatan penolakan ini kemudian berbeda-beda. Ada yang pada akhirnya langsung memutuskan untuk “hengkang”, ada juga yang terpaksa mentolerir keadaan dan memutuskan untuk tetap bertahan.

Bagi kelompok yang memutuskan untuk hengkang, faktor perasaan untuk dihargai menjadi pertimbangan utama. Secara posisi tentunya dari pertama bergabung mereka sadar bahwa mereka bekerja pada sebuah perusahaan yang sudah mempunyai aturan main. Tapi mereka juga menilai, manakala aturan main yang berlaku tidak sesuai dengan hati nurani dan setelah diupayakan untuk dipahami ternyata tidak membawa perubahan yang berarti bagi kenyamanan hati, lebih baik hengkang. Anggapan masih ada pekerjaan atau perusahaan lain yang lebih baik dan mampu menghargai kapasitas mereka sebagai karyawan atau dengan iklim usaha yang lebih nyaman akhirnya lebih mengedepan dibandingkan faktor fasilitas dan materi yang didapatkan.

Contoh kasus seorang teman, sebut saja Vita, yang terpaksa keluar dari perusahaan tempat dia bekerja karena merasa gerah dengan iklim persaingan yang kurang sehat yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Jabatan Vita sebelum keluar adalah Manager HRD, sementara rekan kerjanya menjabat sebagai Manager Keuangan dan Umum. Dalam perusahaan tersebut Vita bergabung belakangan dari rekan kerjanya. Namun posisi dan tanggung jawabnya mengharuskan dia dekat dengan semua lapisan karyawan. Kebetulan juga sikap supel dan pengertian Vita membuat karyawan lain juga senang bergaul dan berdiskusi dengannya. Keadaan ini ternyata diartikan lain oleh rekan kerjanya. Rekan kerja yang tadinya baik dan bahu membahu dalam menjalankan tugas berubah menjadi sosok yang menjaga jarak. Belakangan Vita tahu bahwa sang rekan merasa tersaingi karena karyawan lebih dekat dan lebih menurut dengan Vita dibandingkan dengan dia.

Sebenarnya dari keluhan dan curhatan karyawan sendiri merasa tidak nyaman dengan sikap rekan kerjanya tersebut, jauh sebelum Vita bergabung. Namun terhadap keluhan dan curhatan karyawan tersebut Vita tetap bersikap profesional dan justru mencoba memberikan pengertian. Vita pun sudah berupaya untuk berbicara secara baik-baik, namun tidak mendapat respon yang baik dari sang rekan. Vita memang tidak berusaha untuk membicarakan masalah tersebut dengan atasan mereka, karena dia masih menghargai rekan kerjanya dan menganggap tindakan tersebut justru akan memperburuk keadaan. Dan selama itu pula atasan mereka tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, karena rekan kerjanya pandai menutupi dan mengambil hati sang atasan. Hingga sampai pada suatu kondisi sang rekan kerja membuat keadaan yang tidak bisa diterima lagi oleh Vita, karena sudah menjurus kepada adu domba. Namun Vita tetap bersikap profesional dan lebih memilih mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Sang atasan sebenarnya kaget dan mempertanyakan keputusan Vita. Namun sekali lagi Vita bersikap profesional dan mengutarakan alasan lain atas keputusannya tersebut.

Bagi kelompok yang memutuskan untuk bertahan bisa saja disebabkan faktor yang tidak bisa dihindarkan. Misalnya, atasan masih kerabat dekat atau atasan yang dulu menolong dia masuk di perusahaan tersebut. Faktor ini terkadang akan menempatkan posisi seseorang akan serba salah dan akhirnya lebih mengarah kepada keputusan pasrah. Pertimbangan rasa tidak enak dan menjaga hubungan baik akan kuat dan mengalahkan pertimbangan lainnya. Alasan lainnya adalah dia sudah sekian lama bekerja di perusahaan tersebut sehingga khawatir jika keluar sulit untuk mendapatkan pekerjaan lagi dengan posisi seperti yang sudah diperolehnya sekarang.

Kondisi inilah yang dijalani oleh teman yang lain, sebut saja Umar.  Umar bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat dimana peraturan yang berlaku dibuat sesuai dengan kesepakatan para pendirinya. Setiap bulan Umar mendapatkan gaji yang didalamnya sudah termasuk uang transport dan makan. Untuk kesehatan sistemnya reimburse dan jika kerja lembur diberikan uang lembur.  Jika ada proyek di luar kota Umar dan reakn kerjanya yang lain akan merasa senang karena uang perjalanan dinas bisa menjadi tabungan buat mereka. Seiring berjalannya waktu saya perhatikan cukup banyak rekan Umar yang keluar. Saya coba bertanya kepada salah seorang dari mereka yang kebetulan juga saya kenal, mengapa dia keluar, karena saya tahu bahwa eksistensi lembaga ini di luar cukup baik. Dia menjelaskan bahwa sikap atasan yang selalu merasa pendapatnya benar dan juga menjurus ke arah diktator merupakan sebab utama keputusan untuk keluar. Disamping itu, jika ada pekerjaan yang gagal ataupun tidak mencapai target, selalu karyawan yang dipersalahkan.

Lalu bagaimana dengan Umar? Mengapa dia bertahan? Saya mencoba bertanya kepada Umar. Sebenarnya dia sendiri merasa tidak nyaman dengan kondisi yang terjadi. Namun karena dulu dia bergabung dengan lembaga tersebut atas jasa dari atasannya, maka dia merasa tidak enak untuk keluar begitu saja. Dia mungkin akan keluar apabila ada tawaran di kota lain. Ini pun masih dipikir-pikir olehnya.

Dua kondisi di atas adalah faktor yang tentunya menjadi benar bila dipandang dari kacamata masing-masing kelompok dan akan sebaliknya menjadi salah jika disilang antar kelompok. Namun intinya adalah, suasana dan lingkungan kerja yang nyaman pada sebuah perusahaan akan menjadi ruang gerak motivasi tersendiri bagi setiap karyawan yang bekerja di dalamnya. Sikap pengertian dan penerimaan dari atasan terhadap apa yang sudah dikerjakan oleh karyawan juga memegang peranan penting. Seringkali seorang atasan marah manakala target penjualan atau produksi tidak tercapai atau jauh dari bisnis plan yang sudah disusun. Tentunya bagi atasan hal semacam ini akan lumrah dan wajar, karena mereka juga mendapat sorotan dari pimpinan perusahaan atau dewan komisaris untuk mencapai target yang sudah ditekankan.

Hal yang kemudian terlupakan oleh seorang atasan adalah bagaimana cara menyampaikan dan mengkomunikasikan kondisi tersebut dalam tatanan kata dan kondisi yang baik serta dengan pemikiran-pemikiran yang logis, sehingga tidak melulu terkesan menekan karyawan. Duduk bersama, berpikir bersama dan mendiskusikan solusi terbaik secara bersama akan lebih bisa diterima karyawan dibandingkan sikap arogan dan menghakimi serta melimpahkan sepenuhnya kesalahan kepada karyawan. Dengan begitu karyawan merasa dihargai dan juga akan mengerti letak kelemahannya. Begitu juga dengan atasan. Tanpa harus pamer urat leher, kesepakatan untuk memperbaiki strategi ke depan akan lebih mudah dicapai. Sehingga kekompakan tim kerja atau pun divisi tetap dapat terbina. Seorang atasan yang bijak tentunya akan selalu mempertimbangkan dan mengingat bahwa kegagalan kerja dalam sebuah tim atau divisi tidak terlepas dari peranan pimpinan dari tim atau divisi itu sendiri. Berkaca sebelum meminta orang berkaca tentunya suatu sikap yang arif dalam mengoreksi diri kita sendiri.

Menjaga ritme kerja yang baik antar sesama karyawan juga faktor penting lainnya. Kasus Vita di atas telah membuktikan bahwa persaingan kerja yang tidak sehat akan berdampak buruk pada kenyamanan hati seseorang. Meskipun pengaruh faktor ini terhadap kepindahan seseorang tidak sebesar pengaruh faktor atasan dan aturan perusahaan, namun faktor ini perlu diwaspadai, karena akan berdampak kepada motivasi kerja. Persoalan ini memang sedikit rumit untuk dilacak dan dipecahkan seketika, sebab ini berhubungan dengan individu karyawan. Kalau terkait dengan perusahaan bisa diselesaikan dengan pendekatan aturan perusahaan. Tapi untuk kasus secara individu, belum tentu bisa didekati dengan peraturan perusahaan. Hal yang kemudian penting adalah bagaimana seorang karyawan memposisikan diri dan menempatkan toleransi sikap dalam bergaul dan memahami karakter serta sikap sesama rekan kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s