Ular dan Tim Ular (SIOUX)

Berawal dari maraknya temuan dan keluhan mengenai ular dari warga komplek perumahan tempat saya tinggal, kami sebagai pengurus warga akhirnya mencoba mencari alternatif pemecahan masalah ini. Upaya pertama yang kemudian menjadi program rutin adalah pembersihan rumput dan ilalang liar di dalam dan luar komplek, terutama di lahan dan kavling kosong. Upaya yang kedua adalah rencana mendatangkan pawang ular dan atau tim penangkap ular.

Tim penangkap ular?? Saya juga merasa aneh dengan istilah ini. Mulanya salah seorang warga memposting di mailing-list mengenai keberadaan tim ini. Sebagai moderator mailing list, saya menanggapi postingan ini dengan setengah bercanda. Pertanyaan yang terbersit dalam pikiran saya adalah apakah ada tim khusus yang berprofesi sebagai penangkap ular? Yang lazim saya dengar dengan kata ular selama ini adalah pawang ular dan penari ular. Ternyata jawabannya ada, namanya adalah SIOUX Indonesia.

Dengan bantuan warga yang memposting tadi, saya pun dapat berkenalan dengan ketua atau koordinator dari tim tersebut. Diskusi berlangsung melalui chatting dan telepon. Berbagai informasi awal coba saya gali termasuk pengalaman mereka dalam menangani masalah ular. Saya juga menyempatkan membuka blog mereka. Dari profil yang tertulis, ternyata tim SIOUX bukanlah pawang ular. SIOUX Indonesia menamakan diri sebagai sebuah lembaga yang bergerak untuk mempelajari ular – ular asli Indonesia.

Seminggu berlalu, ternyata permasalahan ular yang dilaporkan warga semakin banyak. Saya pun terusik dengan postingan mengenai tim SIOUX. Saya mencoba melemparkan wacana mengenai tim ini kepada pengurus warga yang lain. Kemudian disepakati untuk dilakukan penjajakan.

Perbedaan utama pawang ular dengan SIOUX adalah jika pawang ular mempunyai kemampuan memanggil ular maka tim SIOUX melakukan penanganan ular secara alami berdasarkan pengalaman, penelitian dan pengamatan mereka tentang ular.

SIOUX diambil dari satu nama suku Indian di Amerika yang berarti ULAR. Lembaga ini berdiri di Jakarta 23 November 2003 sebagai bentuk keterlanjutan dari lembaga serupa di Jogja yang bernama NATRIX (1998-2003). SIOUX memiliki misi untuk merubah paradigma masyarakat tentang ular sehingga ular mendapat perlakuan yang lebih baik dan benar dari manusia sehingga terhindar dari kepunahan. Saat ini SIOUX berada dibawah naungan yayasan Waglery yang didirikan pada tanggal 15 Januari 2007 oleh para pendiri SIOUX.

Singkat cerita, berbekal informasi dari diskusi dan blog mereka serta kesepakatan warga, maka tepat malam valentine kami pun mengundang tim SIOUX untuk melakukan penyisiran ular di sekitar komplek. Saya akhirnya dapat berkenalan langsung dengan ketua dan beberapa anggota tim ini, mereka masih muda dan gagah.

Bersama dengan pengurus warga dan beberapa orang warga, saya mengawal kerja mereka. Sangat terlihat kalau mereka bekerja secara profesional. Penyisiran dilakukan di setiap sudut rumah dan selokan serta titik titik yang dilaporkan seringkali kedatangan ular. Namun sayang, sepertinya malam itu ular-ular juga ikut merayakan valentine. Dimulai pukul setengah delapan malam dan berakhir sekitar pukul setengah dua belas malam, ular yang berhasil ditangkap hanya satu ekor.

Sambil istirahat tim ini kemudian memberikan penjelasan mengenai jenis ular yang berhasil ditangkap tersebut termasuk tingkatan bisa (poison) serta dampak dari gigitannya. Kebiasaan sang ular pun juga dibahas tuntas. Disamping itu, mereka juga memberikan penjelasan secara umum tentang ular dan upaya antisipasi yang cepat jika menjumpai ular.

Mendengarkan cerita mereka sekali lagi saya berpikir, ini tentunya berkaitan dengan hobby dan kesukaan, ternyata ada hal hal yang menurut saya tidak mungkin pada kenyataannya mungkin adanya. Seperti tim SIOUX ini, berawal dari kecintaan terhadap satwa Indonesia (khususnya ular) serta keinginan untuk menyelamatkan dan mempelajari secara detail tentang ular akhirnya membawa mereka kepada satu visi dan misi yang sama dan berkumpul membentuk sebuah wadah.

Tidak hanya sampai disitu, pemikiran mereka sudah jauh ke depan. Mereka ingin menjadi kan kegiatan ini bukan hanya sekedar hobby atau sebatas pada penelitian semata, mereka ingin membawa kegiatan ini ketingkatan yang lebih tinggi, yakni sebuah profesi yang bisa diakui oleh masyarakat umum dan juga oleh pemerintah. Semoga terwujud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s