Sepenggal Cerita “Lazim” dan “Biasa”

Ini sebenarnya cerita dari pengalaman beberapa tahun lalu, tapi saya yakin masih berlangsung sampai detik ini. Sekitar pertengahan April tahun dua ribu delapan, saya mendapat tugas dari perusahaan ke Medan, bersama seorang rekan. Kami ditugaskan dengan target waktu tiga minggu.

Awal cerita keberangkatan tidak terlalu menyenangkan, pesawat yang akan kami tumpangi mengalami penundaan hingga dua jam lebih. “Para penumpang pesawat kami mohon maaf, dikarenakan alasan teknis pesawat anda mengalami penundaan keberangkatan”, begitulah setidaknya suara ringan petugas maskapai terdengar merdu. Sayangnya, suara merdu ini hanya terdengar sekali itu saja, setelah itu tidak ada informasi penyejuk hati lanjutan.

Saya perhatikan sekitar, para calon penumpang mulai terlihat tidak sabar. Saya bersama rekan mencoba menyikapi kondisi tersebut dengan asumsi orang indonesia kebanyakan, sudah biasa… sudah lazim, itulah asumsi yang paling enak untuk mempengaruhi otak saat itu untuk tetap berpikir tenang dan rasional.

Namun ternyata tidak demikian dengan sebagian besar calon penumpang yang lain. Beberapa dari mereka sepertinya sudah terikat janji dengan koleganya. Alhasil, beranjak satu setengah jam kemudian suasana ruang boarding berubah bak pasar pamer urat leher dan kontes mata melotot serta ajang promosi jari telunjuk. Sasarannya cuma satu, raut muka tegang yang pura-pura sibuk memegang handy talking dan handphone tanpa begitu berani menilai kontestan-kontestan yang mengharapkan untuk dinilai tersebut.

Karena merasa tidak dinilai akhirnya si urat leher, si mata melotot dan si jari telunjuk semakin tidak sabar. Beberapa awak dari satu media yang kebetulan satu jadwal penerbangan dengan kami semakin membuat suasana menjadi panas dengan berpura-pura melakukan pengambilan gambar dan berita atas situasi yang terjadi. Cerita selanjutnya sudah bisa dibayangkan. Saya kembali mencoba mempengaruhi si otak untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan ajang kontes dan promosi yang sedang berlangsung.

Dua jam berlanjut, akhirnya ada kepastian kedatangan pesawat. Suasana ruang boarding yang tadinya panas berangsur tenang sampai pada kondisi setengah normal. Saya pun kembali mencoba mempengaruhi si otak dengan berguman…akhiirnya…berangkat juga.

Cerita berlanjut, setiba di Medan kami menginap di salah satu hotel bertaraf internasional, mulai melakukan rutinitas yang ditugaskan. Beberapa hari berlangsung, rutinitas kerja membuat sedikit jenuh. Saban hari, setiba di hotel biasanya kami “ngaso” terlebih dahulu di lobby sebelum beranjak ke kamar, sambil sekedar rebahan di sofa atau membolak-balik halaman koran yang bernuansa berita lokal. Namun saya berpikir, justru dengan membaca berita lokal seperti itu akan mempermudah dalam melakukan komunikasi dan “sekedar” basa basi dengan orang-orang yang kami hubungi.

Bukan itu saja, disamping membiasakan membaca berita lokal, kegiatan “ngaso” selepas beraktivitas tersebut juga memberikan pemandangan lain, betapa “segarnya” suasana lalu lalang dari pintu masuk hotel menuju lobby hingga akses pintu menuju bagian dalam hotel. Kondisi ini semakin terasa manakala malam sabtu dan minggu, begitu banyak pemandangan “segar” yang bisa dinikmati. Saya bersama rekan kembali mencoba menyikapi kondisi tersebut dengan asumsi orang indonesia kebanyakan…”sudah biasa..sudah lazim…namanya juga di hotel”…itulah asumsi yang paling enak untuk mempengaruhi otak supaya tetap berpikir tenang dan rasional.

Tidak berhenti sampai di situ, suatu sore, selepas beraktvitas, sambil “nge-teh” di tepi kolam renang hotel, saya didekati seorang petugas hotel, mungkin lebih tepatnya security hotel. Kami berbincang santai ngalor ngidul. Dari petugas itu saya tahu, bahwa kondisi tersebut memang sudah “lazim” dan “biasa” bahkan kalau saya mau tanpa sungkan si petugas menawarkan jasanya dan bisa mendatangkan sesuai dengan pesanan. Waduh…!!! Saya kembali mencoba mempengaruhi si otak supaya tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan “promosi” yang berlangsung. Satu kiasan yang cukup ampuh dan membantu di saat “kritis” seperti itu adalah bahwa “pemandangan dirumah jauh lebih segar dibandingkan yang segar-segar sesaat seperti itu”. Aaah, godaan, ada aja…..pikir saya sambil tersenyum kepada si petugas dan menolak secara halus.

Cerita kemudian berlanjut diakhir masa penugasan. Sekitar pukul sebelas siang saya mendapatkan berita bahwa adik ipar saya yang berada di kampung meninggal dunia…Innalillahi!!! Baru beberapa hari sebelumnya saya masih ber-sms-an dan berdiskusi dengannya terkait dengan pekerjaan. Tidak disangka, ia dipanggil lebih dulu. Beberapa saat suasana bathin saya bergejolak. Terbayang wajah adik saya yang masih terbilang sangat muda. Terbayang juga wajah ponakan yang baru berumur dua tahun dan belum mengerti dengan kondisi yang terjadi, sementara target pekerjaan yang memasuki bagian akhir juga menunggu di depan mata.

Di tengah lingkaran gejolak hati tersebut akhirnya muncul satu dorongan saya harus pulang, sebagai rasa penghormatan terakhir. Setelah berdiskusi dengan rekan sekerja, akhirnya keputusan go show ke Polonia adalah jalan yang tercepat. Setiba di Polonia saya langsung ke bagian ticketing. “Maaf pak, penerbangan ke daerah tujuan Bapak sudah penuh”….Oh God!!!… “Untuk yang besok pagi juga sudah penuh Pak, biasa…kondisi fixed session Pak”. Saya akhirnya kembali harus mencoba menyikapi kondisi tersebut dengan asumsi orang indonesia kebanyakan…”sudah biasa..sudah lazim…namanya juga suasana libur panjang..fixed session”…itulah asumsi yang paling enak untuk mempengaruhi otak supaya tetap berpikir tenang dan rasional.

Merasa putus asa dengan jadwal penerbangan, akhirnya saya mencoba menghubungi armada angkutan darat. “Paling cepat dua setengah hari pak baru tiba di kota tujuan”…. Sekali lagi saya mencoba mempengaruhi si otak supaya tetap tenang dan berpikir rasional. Akhirnya dengan berat hati saya terpaksa menghubungi kerabat di kampung halaman dan menyampaikan permohonan maaf tidak bisa hadir di acara pemakamanan.

Cerita di atas hanya secuil kecil kondisi “lazim” dan “biasa” yang berkembang di masyarakat kita baik pada situasi dan kondisi tidak mengenakan, menyegarkan, dan juga menyedihkan. Kondisinya nyata terjadi di tengah-tengah keseharian kita. Namun yang perlu kita sadari, betapa kuatnya daya pikat si “lazim” dan si “biasa” ini dalam mempengaruhi alam pikiran masyarakat kita sehingga tanpa kita sadari kondisi itu menjadi hal yang wajar dan sangat sulit untuk dinormalkan.

Akhirnya, keadaannya dikembalikan kepada masing-masing individu, bagaimana menyikapi si “lazim” dan si “biasa” ini dengan bijak sehingga tetap memberikan ketenangan bagi masing-masing individu yang menghadapinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s